KUNINGANIZER.com – Tangguh! Itulah slogan mahasiswa PBSI yang dibanggakan. Namun untuk menjadi seorang mahasiswa Bahasa dan Sastra memiliki tantangan tersendiri, ada suka dan dukanya. Nah, inilah 9 hal yang dirasakan mahasiswa PBSI Uniku. Yuk simak!

1. Paket kumplit, belajar pendidikan, belajar bahasa Indonesia serta seni dan sastra

Belajar memang suatu kewajiban dan suatu tanggungjawab. Kuliah di Uniku khusunya program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia (PBSI) bisa belajar kumplit. Ada tentang pendidikan karena memang calon guru, belajar bahasa Indonesia yang menarik, sebagai penyegar yaitu belajar seni dan sastra dengan dosen-dosen yang baik serta professional.

2. Meski sering dibully, Kita mah tetap bangga

Siapa sih yang mau di bully? Tentunya tidak ada yang mau jika di bully. Tapi dengan apa adanya mahasiswa PBSI Uniku tetap bangga dengan prodi sendiri. Mahasiswa PBSI pasti sering mendengar bullyan ini:

“Jangan mau pacaran sama anak sastra. Hidupnya penuh dengan drama.”

Setelah saya pahami, ternyata bullyan itu muncul gara-gara di PBSI belajar drama dan pementasan, yang tentunya seluruh mahasiswa PBSI pasti pernah berakting.

Selain drama juga belajar tentang puisi, maka tentunya mahasiswa PBSI pintar membuat puisi, apalagi puisi cinta yang isinya bualan-bualan gombal. Namun saya perhatikan sisi lainnya juga, mungkin yang mengujarkan bully-an itu baru saja diputuskan atau mungkin diselingkuhi oleh mahasiswa PBSI hehe..

Yang ke dua:

“Kuliah dimana neng?”

“PBSI pak.”

“Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia?”

Ish… ish.. ish.. itu mau kuliah apa mau olahraga pak. Hehe..

“Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ih bapak mah..”

“Lagian pake disingkat.”

“Abis kepanjangan pak.” Sambil ngunyah kertas.

Yang ke tiga:

“Ngapain belajar nulis, baca, berbicara sama mendengarkan. Kan dari kecil juga udah bisa.”

Hal yang seperti remeh juga ternyata mempunyai manfaat yang besar jika dipelajari. #tsaaah

3. Dipandang kurang rapi penampilannya

Jeans dan kaos oblong warna hitam memang pakaian andalan mahasiswa PBSI, terutama laki-laki. Rambut panjang yang dikuncir serta pakaian mahasiwa perempuannya yang sederhana. Namun untuk perempuan tidak dijadikan masalah, yang paling berpengaruh sih pakaian laki-laki, seperti yang dikatana diawal tadi. Terkadang ada yang hanya pakai sandal, padahal peraturannya harus pakai sepatu.

Tapi apapun yang diucapkan oranglain, mahasiswa PBSI Uniku mempunyai slogan lucu-lucuan:

“Gapapa jelek yang penting sombong.”

Simple dan bikin nyengir. Maksud sombongnya itu ya sombong dengan prestasi.

Hehe…

4. Akreditasi A itu rasanya…

Siapa bilang akreditasi itu gak penting? Akreditasi itu akan diperhitungkan ketika kerja nanti loh. Dan sekarang, prodi PBSI terakreditasi A oleh BAN-PT. Banyak yang bikin meme and rage comic.

Nih contohnya:
Semakin baik akreditasinya, maka harus semakin baik pula kualitas dan kuantitas

PBSI-nya. Itu tantangan yang luarr biasaaa…

5. Jalan-jalan sambil belajar

Belajar di PBSI Uniku menyengkan, diajak jalan-jalan ke Taman Ismail Marzuki untuk menemui sastrawan di pusat dokumentasi sastra H.B. Jassin dan berbagi ilmu, bisa beli buku juga di sana. Jalan-jalan sambil belajar juga ke pusat bahasa di Bogor dan berbagi ilmu bahasa di sana. Diajakin nonton pementasan teater koma juga ke Jakarta.

Menyenangkan bukan? Apa lagi kalau punya banyak duit hehe..

6. Punya dua saudara

PBSI Uniku punya dua saudara yaitu antara Himpunan Mahasiswa PBSI dan juga Dapur Sastra. Hima untuk si rapi yang suka berorganisasi, Dapur Sastra wadah untuk yang ingin berkesenian dan berkarya. Keduanya saling berjalan beriringan.

7. Jadwal kegiatan kuliah yang padat

Semester satu tugasnya udah analisis puisi dan membuat sinopsis , semester tiga pementasan apresiasi puisi di gedung kesenian Kuningan yang latihannya dua bulan lebih, semester empat analisis novel dan masih banyak lagi. Ditambah lagi kegiatan dari Hima yang mengadakan lomba-lomba antar pelajar, dan juga dari Dapur Sastra yang suka mementaskan teater.

8. Gaya boleh santai, tapi tugas jangan ditanya…

Tugasnya banyak, kayak gak bisa nyantai. Tugasnya menulis dan menulis, nyari berita, bikin cerpen, observasi, analisis bahasa anak, analaisis bahasa sendiri yang digunakan sehari-hari. Dan… masih banyak lagi.

9. Kompak

Antara dosen-dosen dan mahasiswanya kompak, kakak tingkat dan adik tingkat juga dengan alumni masih berhubungan baik.

Yup, itulah 9 hal dirasakan jadi mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Semoga kamu yang masih duduk di Sekolah Menengah Atas (SMA) bisa tertarik ya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here