Aksi Gerombolan (DI) di Priangan Timur, Termasuk Ciwaru dan Sekitarnya

Kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat Indonesia pada masa awal kemerdekaan Indonesia sangat rawan dan memprihatinkan. Di era perjuangan fisik itu, Nusantara bak medan wild west di Amerika karena setiap kelompok dengan bebas menenteng senjata dan memperggunakannya untuk pelbagai macam kepentingan.

Sebagai negara yang baru berdiri, pemerintah Indonesia pada masa itu belum dapat mengkonsolidasikan kekuasaan dan kekuatannya secara optimal.

Hal itu terjadi karena BKR (yang kemudian bertransformasi menjadi TKR dan akhirnya TNI) masih berusia sangat muda dan lebih konsen terhadap upaya-upaya mempertahankan negara dari ancaman baru Belanda.

Kesibukan badan militer negara dalam upayanya melawan Belanda tersebut membuat tingkat keamanan di daerah, khususnya wilayah pedalaman dan pegunungan, sangat rendah.

Di tempat-tempat yang jauh dijangkau pemerintah itu, bermunculan satuan-satuan kelompok yang bergerak bebas sesuka hati. Kelompok-kelompok itu ada yang terbentuk akibat adanya kesamaan ideologi, kesamaan asal daerah, kesamaan kepentingan dan lain-lain.

Secara umum, daerah Priangan Timur merupakan salah satu daerah yang ditempati oleh banyak kelompok-kelompok liar tersebut. Perkembangan pelbagai macam kelompok itu utamanya didukung oleh struktur wilayah yang memang terdiri dari banyak pegunungan dan perbukitan.

Kondisi wilayah semacam itu sangat mendukung pergerakan mereka yang selalu mobile guna menghindari kejaran pihak-pihak yang memusuhi mereka.

Salah satu kelompok liar yang sangat tersohor di masa itu adalah kelompok yang diproklamirkan sebagai sebuah negara Islam oleh Kartosuwiryo. Mereka menyebut diri mereka sendiri sebagai kelompok Darul Islam (DI) dan mengobarkan api konflik kepada pihak-pihak yang dianggap hendak melawan eksistensi mereka.

korban-korban keganasan gerombolan DI/TII yang tercantum dalam buku Album Kenangan Perjuangan Divisi Siliwangi.
korban-korban keganasan gerombolan DI/TII yang tercantum dalam buku Album Kenangan Perjuangan Divisi Siliwangi.

Aksi pasukan yang disebut sebagai Tentara Islam Indonesia (TII) itu tersebar di sejumlah wilayah, baik di dalam maupun luar pulau Jawa. Di daerah Kuningan, para pendukung Kartosuwiryo banyak beraksi di bagian selatan kabupaten, mulai dari daerah Karangkancana, Ciwaru, Subang, Ciniru, Selajambe, dan lain-lain.

Meskipun dasar pembentukan gerakan ini adalah untuk memperjuangkan agama Islam, tapi dalam perkembangannya, segala tindakan dan perilaku yang mereka lakukan tunjukkan sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Bahkan, saking negatifnya image mereka di mata masyarakat, pasukan Kartosuwiryo itu lebih dikenal sebagai “gerombolan” ketimbang sebagai satuan kelompok yang berembel-embel Islam.

Gerombolan sendiri sering diidentifikasikan sebagai sekelompok individu yang memang melakukan tindakan-tindakan yang berkonotasi negatif.

Dalam Sejarah Modern Indonesia, MC. Ricklefs mengemukakan bahwa pergerakan pasukan Kartosuwiryo semakin tidak terkendali dari waktu ke waktu. Tindakan-tindakan kelompok militer yang berafiliasi terhadap Darul Islam di tengah masyarakat Jawa Barat yang bertahan pun menjadi menggila, sehingga sulit untuk membedakannya dari tindakan-tindakan kriminal.

Seperti terurai dalam Darul Islam dan Kartosuwiryo: Langkah Perwujudan Angan-Angan yang Gagal, Holk Harald Dengel menguraikan kebiadaban tentara-tentara DI. Pada September 1956, pasukan Kartosuwiryo telah membakar 254 rumah, 2 masjid dan 1 sekolah di Tasikmalaya hanya dalam jangka waktu 17 hari.

Di Tarayu, 320 anggota TII membakar lebih dari 100 buah rumah pada bulan November. Sementara itu, di wilayah Priangan Timur, dalam waktu seminggu pasukan TII itu mengorbankan 20 jiwa penduduk sipil, menculik 3 orang serta membakar sekitar 373 rumah mereka.

Peristiwa keganasan gerombolan DI di Priangan Timur ini merugikan negara sekitar Rp. 2 Juta, sebuah kerugian yang sangat besar dengan nilai rupiah pada tahun 1954.

Kegiatan perampokan yang disertai dengan perusakan dan pembunuhan merupakan hal yang jamak dilakukan oleh gerombolan DI. Beberapa orang yang pernah penulis temui, yang memang berasal dari desa-desa di bagian timur dan selatan Kuningan yang hidup di masa itu, pasti mengungkapkan kesedihan dan kepedihan jika ditanyakan perihal gerombolan ini.

Karena kehadiran gerombolan DI yang tidak diinginkan itu, mereka harus mengungsi, kehilangan harta benda, kehilangan sanak saudara dan bahkan tempat tinggal.

Sebenarnya, penyerangan DI/TII yang disertai perampokan dan pembakaran terhadap desa-desa di Jawa Barat itu tidak diintruksikan secara langsung Kartosuwiryo. Banyak anak buahnya yang melakukan improvisasi dan tindakan-tindakan sendiri yang jauh dari perintah dan ketentuan pusat DI.

Terlebih lagi, tidak sedikit dari anggota DI itu berasal dari kalangan preman dan perampok yang beroperasi di tingkat-tingkat daerah, yang tentu tidak hanya sulit dikordinir saja namun juga sulit dikendalikan pergerakannya.

Comments

Add a comment

mood_bad
  • No comments yet.
  • chat
    Add a comment
    keyboard_arrow_up