Ane Maria, menikah dengan rentenir beristri tiga beranak lima

Perempuan paruh baya itu bernama Ane, lengkapnya Ane Maria. Di mataku Ane adalah sosok perempuan tangguh.

Bermula aku mengenalnya di Instagram. siapa tak mengenal satu aplikasi itu? Kecuali yang memang benar-benar tidak tahu. Untuk saat ini, bukan hanya manusia pengguna media sosial yang satu itu, kucing-kucing –termasuk kucing garong- dan para binatang lainnya pun turut berada di sana, bahkan ada yang untuk hidup di sana, hamil lalu beranak-pinak. Hal itu mungkin karena bumi kita yang sudah tidak relevan lagi untuk keberlangsungan kehidupan segenap mahluk hidup sebab polusi, pencemaran dan pengrusakan lainnya.

Dan di antara milyaran akun pengguna Instagram, ada satu milik Ane Maria dan satu lagi milikku. Selebihnya milik aneka manusia dan mahluk lain tadi yang tak nyaman lagi hidup di alam nyata ini. Alhasil, aku berkenalan dengannya, bertukar pin BBM, Black Berry Messanger dan berlanjut dengan berkirim pesan ngalor-ngidul tak keruan .

“Ping!!!”

“Ya”

“Saya yang di Instagram itu lho mbak, terimakasih sudah di invite, salam kenal ya mbak”

“Iya, Sama-sama. Salam kenal juga”

Tidak sampai satu minggu, kita pun akrab. Boleh dikata seakrab kakak beradik. Tentu saja, Ane Maria kakaknya karena selisih 10 diatas usiaku. Hanya dalam dua hari aku sudah mengetahui mulai dari nama, status, alamat tinggal, pekerjaan, jumlah anak dan lainnya. Hal itu karena Ane Maria seorang yang mudah bergaul dan berkepribadian extropert, terbuka kepada siapa yang dikehendakinya, termasuk aku, mungkin.

Dari sekian banyak pengalaman hidup yang Ia share kepadaku, kesemuanya menarik dan inspiratif. Namun, paling menarik adalah perjuangan hidupnya dalam membesarkan kelima buah hatinya sampai sukses dengan statusnya yang single parent.

Sempat suatu malam kami messaging, berkirim pesan panjang lebar. Selepas Isya sampai shubuh menjelang, sungguh waktu yang lumayan panjang.

“Penyesalanku dan penyesalanmu itu berbeda! Apa yang aku rasakan, tak akan pernah kau rasakan walau kau coba untuk sedikit paham!” Ia menulis itu sebagai PM, personal message-nya. Kata-kata yang entah untuk siapa ia tujukan. Yang jelas, aku menduga di balik sederetan kata itu tersirat kawah luka yang menganga di hatinya nan dalam.

Membaca sederetan kata itu otakku seketika berputar cepat, memintal ulang kata per-kata yang sempat melekat dari apa yang telah Ia ceritakan lalu, dan memunculkannya kembali dalam ingatanku. Aku mencari tahu untuk siapa kata-kata itu Ia tuju. Hingga akhirnya ingatanku membentur pada sebuah curahan hatinya yang pernah diutarakan kepadaku.

“Aku menikah pada usia muda, dik!” tuturnya kepadaku suatu waktu, kala kami tengah berkirim pesan.

“Ayahku, Dia berhutang pada seorang rentenir untuk suntikan modal usaha sayuran di Luragung. Belakangan usahanya bangkrut, ayah pun terlilit hutang. Sebagai gantinya, aku yang masih duduk di kelas tiga SMP harus menikah dengan rentenir beristri tiga beranak lima itu. Ya, terdengar klise memang, dik! Tapi begitulah adanya” tegasnya lagi.

“Oh” tak panjang aku membalas. Namun, sementara aku simpulkan status itu Ia tujukan pada mantan suaminya.

“Ya, darinya aku dikarunia lima orang anak! Suamiku, yang tak pernah kucintai itu mencampakanku ketika anak-anakku masih kecil-kecil, dan ia memilih tinggal bersama istri yang lain. Anak-anakku, kesemuanya aku besarkan dan merawatnya sendiri,” aku terenyuh membacanya, ditambah emot sedih yang ia bubuhkan di ujung pesannya membuat suasana hening malam itu menjadi tambah sendu.

“maaf! kalau boleh aku tahu, bagaimana kakak menafkahi anak-anak kakak?” aku memberanikan untuk bertanya.

“Asal tahu saja, dik! 99% isi kepala seorang ibu adalah anak-anaknya. Aku bekerja apa saja untuk mereka. Bagi perempuan yang tak tamat SMP, Berharap dapat pekerjaan layak hanyalah mimpi di siang bolong, mustahil terwujud!” tegasnya.

“Aku merantau ke Jakarta. Menjadi babu, memungut sampah, tukang cuci baju, tukang cuci piring, mencuci gerbong kereta api di manggarai, tukang sapu jalan, menjual ginjal, semua itu aku lakukan demi anak-anakku. Kalau saja kulit tubuh ini laku dijual, pasti sudah kusisik dan dikilo lalu dijual, demi Tuhan, dik! asal anak-anakku mendapat hidup senang dan masa depan yang gemilang, tidak seperti hidupku yang malang!”

kali ini Ane membubuhkan emoticon dengan mata berkaca-kaca. Aku dapat merasakan atmosfir kesedihan, mungkin kala Ia mengetik kata demi kata itu berjuta kenangan pahit terus menghujani alam pikirannya dan menyeretnya kembali kepada masa yang kelam. Ia pun melanjutkan curhatnya.

“Selain menjadi Ibu, Aku berusaha menjadi ayah juga sahabat bagi anak-ankku. Hasilnya keluarga kami sangat harmonis. Anak-anak, mereka mengerti perjuangan Ibunya. Kekurangan materi dan ketiadaan sosok ayah dalam keluarga bukanlah suatu aral dalam merajut benang-benang kebahagiaan keluargakau, anak-anakku. Bersyukur, kesemua anakku kini telah sukses, dik!” lalu ia mulai menceritakan anak-anaknya.

Katanya, anak pertamanya kini telah menjadi dokter. Anak keduanya menjadi PNS di suatu kementrian. Dan anak ketiganya, lelaki seorang menjadi pebisnis. Anak ke-empat telah menjadi dosen, hanya tinggal anak terakhir yang masih sekolah.            

Aku lihat jarum jam sudah menunjuk angka tiga, tak terasa sudah larut. Begitulah. Tapi Ane belum berhenti dengan curhatannya. Ia pun lanjut menceritakan KDRT yang Ia alami kala masih bersama suaminya. Ia mengirim beberapa photonya, tepatnya beberapa gambar berisi bekas luka-luka di tubuhnya. Aku semakin merinding membayangkannya.

“Aku sudah mati rasa sama yang namanya lelaki, dik!” selain alasan giliran anak-anak yang menikah, itulah satu jawaban lain acap kubertanya kenapa tidak menikah lagi. Tampaknya trauma telah menjelma karang yang tak tergoyahkan dalam jiwanya.

Akhirnya, sang waktu turut ambil bagian dalam percakapan antara aku dan Ane malam itu. Ia menjadi wasit peniup peluit panjang tanda akhir, percakapan kami pun terhenti tepat pukul empat pagi.

Ane maria mengingatkanku akan perjuangan Ibuku dalam menyekolahkanku hingga bergelar doktor seperti sekarang. Adakah pengorbanan yang melebihi dahsyatnya pengorbanan Ibu kepada anak-anaknya? Saya pastikan: Tidak Ada!

Pada akhirnya, sebagai lelaki yang konon imam bagi mahluk yang bernama perempuan, aku pun menyadari terdapat kelemahan. Bahwa sejatinya kekuatan lelaki yang terbesar ada pada tulang rusuknya. Lihatlah! Mahluk-mahluk Tuhan yang berjuluk tulang rusuk itu, mereka masih tetap tegar dan tangguh berjalan dan berjuang hidup tanpa didampingi sosok seorang lelaki.

“Sekarang, berkat anak-anakku hidupku cukup senang. Untuk sekadar mengusir rasa jenuh di rumah, aku membuka warung ‘Nasi Kasreng’ di dekat sungai cisanggarung Luragung, mainlah kapan-kapan mencicipi kuliner khas Kuningan, dik!” Pungkasnya. Aku tak membalas lagi.

Ciputat, 21 April 12.17 WIB.


Cerepn ini adalah kiriman komunitas KUNINGANIZER, Uus Mustar. Kamu juga bisa mengirim karya tulismu ke KUNINGANIZER melalui email kuninganizer@gmail.com


 

Comments

Add a comment

mood_bad
  • No comments yet.
  • chat
    Add a comment
    keyboard_arrow_up