Makam Eyang Hasan Maolani di cungkup Makam Kyai Modjo (sumber:sepasangsepatuhidup.blogspot.com)
Makam Eyang Hasan Maolani di cungkup Makam Kyai Modjo (sumber:sepasangsepatuhidup.blogspot.com)

Bagi sebagian masyarakat Kuningan, nama Eyang Hasan Maolani adalah nama yang legendaris dan identik dengan dakwah Islam di wilayah ini. Nama Eyang Hasan tidak hanya harum sebagai sosok kharismatik penyebar ajaran tauhid Islam saja, namun juga masyhur sebagai salah satu sosok tokoh Islam yang memperjuangkan kebebasan masyarakat dari belenggu pemerintah kolonial Belanda.

Eyang Hasan Maolani merupakan salah seorang ulama abad ke-19 yang memiliki peran amat penting dalam perkembangan Islam di wilayah Kuningan dan sekitarnya. Sosok kharismatik asal desa Lengkong ini memiliki pengetahuan Islam yang sangat luas dan tingkat keilmuannya sangat tinggi. Hal tersebut dapat dilihat dari sikap takzim dan hormat pelbagai kalangan masyarakat terhadap tokoh yang berwibawa ini dan menyebutnya dengan sebutan Kiai. Bahkan, dalam penelitian sejarah Tarekat Syattariyah di Nusantara yang kemudian dibubukan menjadi Tarekat Syattariyah di Minangkabau, Oman Fathurrahman menulis nama Eyang Hasan dengan tambahan kata haji, sehingga menjadi K.H. Hasan Maolani.

Eyang Hasan Maolani
sumber foto: harissuryasmintd.blogspot.co.id

Kiprah gemilang Eyang Hasan dalam menggemakan takbir dan Islam di tengah masyarakat ternyata membuahkan hasil yang menggembirakan. Tempat kajian Islam yang dia bangun dan kembangkan di Lengkong, menarik banyak murid hingga yang berasal dari luar Kuningan. Sejak pesantren yang dirintisnya itu berhasil, Eyang Hasan mulai dikenal secara luas sebagai ulama besar Islam. Masyarakat menganggap bahwa kehadiran Eyang Hasan bak setitik cahaya terang yang dapat menyinari gelap dan beratnya kehidupan di masa kolonial.

“Pada abad ke-19, Eyang Hasan merupakan sosok penting penyebar Islam di Jawa yang sekaligus menjadi ratu adil bagi masyarakat. Beliau merupakan guru Jawa, di samping Mas Malangyuda dan Nurhakim, yang juga banyak belajar pada Eyang Hasan.” Tulis Drewes dalam Drie Javaans Goeroes.

Menurut catatan Ricklefs yang tertuang dalam Polarising Javanese Society: Islamic and Other Visions (c.1830-1930), pengangkatan dan penyematan kata ratu adil terhadap seseorang oleh masyarakat itu dapat terjadi karena adanya sejumlah dasar atau alasan khusus tertentu. Hal-hal mendasar yang dimaksud adalah kemampuan dan kemahiran dalam penyampaian doktrin sufistik, kemampuan akan hal yang bersifat mistik atau ajaib, dan kemampuan dalam menghimpun dan mengakomodir masyarakat dalam suatu komunitas.

Untuk mendukung aktivitas dakwahnya, Eyang Hasan juga mendalami (dan bahkan kemudian menjadi tokoh sentral) tarekat Syattariyah dan Akmaliyyah. Kegiatan di dalam komunitas tarekat semacam ini merupakan kegiatan yang amat ditakuti oleh pemerintah kolonial Belanda. “Dengan rujukan kitab Fathul Qarib, Eyang Hasan juga menekankan ajaran jihad dan semangat anti-penjajahan terhadap jamaahnya.” Tulis Nina Lubis dalam Kajian Tentang Perjuangan K.H. Hasan Maolani Dalam Rangka Pengusulannya Sebagai Pahlawan Nasional.

Baca Juga: Selembar Catatan Persekutuan Aneh dalam Perang Kemerdakaan

Mendengar ajaran-ajaran yang dikemukakan oleh Eyang Hasan itu, kekhawatiran Belanda segera berubah menjadi ketakutan. Dengan berkaca pada Perang Diponegoro yang didukung indoktrinasi kaum ulama terhadap rakyat, pihak kolonial menganggap semangat jihad rakyat Jawa yang besar itu amat sukar untuk ditaklukkan, bahkan akan merugikan jika terus dibiarkan. Oleh karena itu, sebelum kejadian semacam Perang Jawa itu terulang kembali, pemerintah kolonial Belanda bergerak sigap dan cepat dengan menangkap Eyang Hasan lalu mengasingkannya ke Kampung Jawa Tondano di Sulawesi.

“Alasan utama dari penangkapan Eyang Hasan Maolani adalah kekhawatiran pemerintah Hindia-Belanda akan kekuatan yang ditimbulkan atas citra yang dimiliki Eyang Hasan di mata masyarakat. Citra itu dapat digunakan Eyang Hasan untuk membangun kekuatan anti-kolonialisme dan memengaruhi rakyat untuk membenci serta menggulingkan kekuasaan pemerintah Hindia-Belanda.” Seperti tertuang dalam karya Michael Laffan, The Making of Indonesian Islam: Orientalism and the Narration of a Sufi Past.

Di tanah pengasingan, Eyang Hasan tetap berkarya dan tidak mudah patah arang. Alim yang mahir menulis ini tetap istiqomah dalam menyebarkan agama Islam di tengah masyarakat Tondano yang sebagian besarnya beragama non-muslim. Di samping itu, Eyang Hasan juga mengajarkan ilmu pertanian yang dikuasainya kepada orang-orang yang menginginkan hasil panennya melimpah seperti panen yang ada di tanah Lengkong.

Saat kondisi fisiknya semakin merenta dan usianya semakin menua, kharisma dan wibawa Eyang Hasan di tanah Tondano tetap terjaga. Beranda rumah dan beberapa tempat di sekitarnya, seringkali ramai oleh kehadiran sejumlah orang yang hendak mendengarkan siraman rohani dan menimba ilmu kepadanya. Sampai tutup usia, nama Eyang Hasan tetap dihormati oleh masyarakat. Bahkan, makam ulama cemerlang asal Kuningan ini ditempatkan oleh masyarakat Jawa Tondano di tempat yang terhormat pemakaman, di antara makam Kiai Modjo dan alim ulama lain yang berasal dari pelbagai daerah di Nusantara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here