Fenomena Penemuan Kerang Purba di Pasawahan, Kuningan

KUNINGANIZER.com – Akhir-akhir ini, sebagian masyarakat Kuningan dihebohkan dengan tersebarnya foto-foto tentang penemuan kerang-kerang membatu di wilayah Desa Ciwiru, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan. Jika saja fosil itu ditemukan di daerah pantai, sebut saja Pantai Ancol, Pantai Ade Irma Cirebon, Pantai Pangandaran, atau Pantai Parang Tritis, tentu tidak mengherankan.

Tapi ini ditemukannya di wilayah pegunungan Ciremai, dan itu adalah gunung tertinggi di Jawa Barat! Yosa Fiki Alfiyudin, penyebar foto itu di sebuah grup salah satu media sosial, mengungkapkan bahwa kerang-kerang itu adalah fosil yang membuktikan bahwa sekitar ratusan juta tahun yang lalu daerahnya tersebut adalah wilayah lautan. Menarik untuk ditelusuri.

fenomena kerang ciwaru 2
fenomena kerang purba (foto: facebook)

Fenomena penemuan bebatuan kerang seperti yang terjadi di Ciwiru ini sebenarnya bukan yang pertama terjadi. Di Kabupaten Kawal daerah Riau, terdapat bebatuan kerang yang hampir sama, bahkan lebih besar karena membukit dan bahkan kemudian wilayah itu tersohor menjadi Bukit Kerang Kabupaten Kawal.

fenomena kerang ciwaru 4
fenomena kerang purba

Selain disana, penemuan kerang yang lebih mengagetkan lagi adalah penemuan kerang-kerang di Gunung Everest. Bisa kita bayangkan, bagaimana bisa kerang yang pastinya berasal dari wilayah lautan itu dapat berada di puncak daratan tertinggi dunia?

Saya ingat satu teori mengenai perubahan bumi yang terjadi jutaan tahun yang lalu. Dalam teori itu diuraikan bahwa sejak masa yang purba itu daratan terus berubah dan akibatnya puncak tertinggi dunia saat ini pernah tergenang air dan menjadi tempat hidup sejumlah organisme kecil yang kemudian berkembang menjadi hewan-hewan air. Teori yang berangkat dari kalangan evolusionis itu menyebutkan bahwa dataran tinggi dunia saat ini merupakan daratan yang rendah pada jutaan tahun lalu.

fenomena kerang ciwaru 3
fenomena kerang purba

Sementara itu, para penggiat peradaban purba menyebut tumpukan kerang itu sebagai Kjokkenmoddinger. Istilah yang berasal dari bahasa Denmark kjokken (dapur) dan modding (sampah) itu memiliki arti sampah dapur. Namun sejauh yang digunakan oleh para ahli, istilah itu merujuk pada adanya timbunan atau tumpukan kulit kerang dan siput yang mencapai ketinggian ± 7 meter dan sudah membatu/menjadi fosil karena lekang oleh waktu.

Mereka meyakini bahwa kerang-kerangan semacam ini adalah sisa makanan manusia purba yang hidup pada masa mesolitikum atau masa perubahan antara zaman batu ke zaman perunggu sekitar 3000 tahun – 5000 tahun sebelum masehi.

fenomena kerang purba
fenomena kerang purba

Pada sisi yang lain, kalangan agamawan menganggap bahwa keanehan mengenai kerang-kerang itu terjadi akibat adanya sebuah peristiwa besar di masa lalu. Peristiwa yang mengakibatkan terangkatnya makhluk laut itu adalah Peristiwa Banjir Besar atau Air Bah. Kejadian dahsyat itu tidak hanya ditulis sebagai kisah Nabi Nuh dalam Kitab Suci Al-Qur’an saja, namun juga ada dan tercatat dalam pelbagai kitab suci dan mitos masyarakat, seperti misalnya Kitab Kejadian Kristen, Kitab Purana Hindu, mitologi Yunani, mitos masyarakat Amerika Latin, dan lain-lain. Perlu diketahui, sebagian besar budaya dunia memang mengenal cerita-cerita tentang “air bah” yang menghancurkan peradaban-peradaban masyarakat sebelumnya.

Bisa jadi anggapan yang terakhir ini benar, tapi bisa jadi juga teori-teori lain yang benar. Tergantung keyakinan dan kepercayaan anda dalam menelusurinya serta mempelajarinya. Wallahu’alam….

Comments

Add a comment

mood_bad
  • No comments yet.
  • chat
    Add a comment
    keyboard_arrow_up