Ibu Utje, Ibu yang Baik. Sangat Baik.

Pagi ini langit Kuningan tak cerah seperti biasanya. Matahari tak menampakkan wajahnya, bersembunyi di balik awan. Alam seakan ikut berbicara dan berduka atas kehilangan pemimpin kami, Ibu Hj. Utje Ch. Suganda. Kamis sore kemarin, saya seperti tersambar petir di siang bolong saat seorang teman mengkonfirmasi kebenaran berita wafatnya Ibu.

Masih tak percaya, saya cek ke beberapa orang dekat ibu. Seperti ada yang tercerabut dari hati saya, ketika teman-teman membenarkan berita itu. Dunia serasa gelap seketika dan yang bisa saya lakukan hanya menangis dan berdoa. Doa seorang anak bagi Ibunda tersayang.

Pagi ini, telah kuantarkan Ibu ke peristirahatan terakhir. Airmata tak bisa kubendung. Mengingat dan mengenang berbagai peristiwa yang kami alami bersama. Ibu Utje seperti Ibu kedua bagi saya. Saya memang tak selalu bersamanya, tapi saya yakin Ibu selalu ada untuk saya, dan saya ada untuk ibu. Di hari ini, please, Ibu, ijinkan saya mengenang Ibu dengan cara yang ibu sukai. Tulisan. Ya, tulisan.

Ibu sangat suka menulis dan membaca. Menulis artikel yang isinya lebih banyak tentang motivasi diri dan kisah religi. Ibu juga sangat suka puisi. Pada satu kesempatan, Ibu pernah bercerita ingin mengumpulkan puisi karyanya menjadi satu buku. Saat saya memberikan dukungan, Ibu berkata lagi, “Tapi lieur ngumpulkeunna, Tiek, Ibu kan nulisnya dimana-mana kalau lagi ada ide”.

Ibu juga menjadi penulis tetap rubrik Pojok Wanita di Majalah Purbawisesa. Karena kesibukan beliau, Ibu tidak sempat mengetik ide-ide dan gagasannya. Saya mendapat tugas untuk menuliskan kembali, gagasan beliau yang disampaikan secara lisan atau draft tulisan tangan beliau.

Pada satu sore di Pendopo, ditemani secangkir teh manis dan pisang goreng hangat, Ibu memanggil saya. Intinya beliau ingin membuat tulisan “in memoriam alm. Ibu Juju”, guru TK anak-anak Ibu. Saya tak kenal Ibu Juju, jadi saya menggali informasi yang banyak dari Ibu. Satu hal yang saya ingat, Ibu terkesan dengan Ibu Juju ini karena beliau guru yang tulus dan menyayangi anak-anak Ibu seperti anaknya sendiri. Ibu Utje pernah dimarahi habis-habisan Ibu Juju karena terlambat menjemput anaknya di sekolah, hingga harus menunggu lebih dari satu jam. “Tah, ti dinya, Tiek, Ibu mah asa ka indung sorangan ka Bu Juju teh.

Sebelum wafat Ibu sempat memberangkatkan beliau umrah. Makanya, kemarin waktu Ibu menyambut rombongan haji, Ibu asa ngeliat Ibu Juju melambaikan tangan. Sedih pisan.

”Selama Ibu bercerita, Ibu tak henti mengusap air mata mengingat almarhumah. Terhanyut dengan cerita Ibu, saat itu saya ikut menangis mendengarkannya. Lalu kami menangis terisak-isak berdua, ketika tersadar, Ibu bertanya, “Udah ditulis, Tiek?”. Dan dengan polosnya, saya bilang, “Ih, Ibu, aku ngga nulis, aku kebawa hanyut cerita Ibu”. Dan terbahak-bahaklah, kami mentertawakan kebodohan saya. Kenangan yang tak kan pernah hilang dalam memori saya.

Pendek cerita, tulisan tersebut akhirnya jadi, dan diberikan pada peringatan 40 hari wafatnya Ibu Juju. Yang saya selalu salut, setelah selesai, Ibu sengaja menelpon hanya untuk mengucapkan terima kasih karena tulisan itu membuat banyak orang terharu dan menangis. Ibu, tahukah Ibu, bukan tulisan saya yang bagus, tapi ada hati, kasih sayang dan perhatian yang tulus dari cerita Ibu. Itu yang ditangkap orang.

Dan tahukah, Ibu, hari ini pun saat saya menulis tulisan ini, seluruh perasaan saya tumpah, air mata tak mau berhenti. Duh, betapa saya rindu pada Ibu. Sejak pindah dari Humas, saya memang tidak berkesempatan untuk bertemu dengan Ibu secara intens. Ibu memang selalu profesional dan menghargai setiap orang, jika memberi tugas selalu berdasarkan tupoksi dan kompetensinya.

Jika kembali ke masa silam, perkenalan saya dan Ibu diawali dengan tugas dari Kabag Humas, waktu itu masih dijabat Pak Dian. Pak Dian menugaskan saya untuk menyusun proposal Kampanye Ayo Bersihkan Kuningan yang diinisiasi oleh Ibu. Waktu itu saya sempat menolak, tidak pede, dan tahu diri juga karena saya masih staf CPNS di Bagian Humas, masa langsung menghadap seorang istri Bupati.

Dalam benak saya, ada stereotip kalau istri pejabat mesti rese dan sebagainya. Tapi ketika bertemu Ibu, semua teori negative yang bercokol di benak saya, hilang semua. Ibu Utje baik. Sangat baik. Ibu Utje tulus. Ibu Utje tidak jaim.

Saya masih ingat, karena pertemuan dimulai jam 7 malam, Ibu belikan kami nasi goreng yang berjualan di depan Toko Sumber Waras. Ibu lalu mengambil sekitar 3 sendok nasi dari bungkusnya dan memberikan sisanya pada ajudan Ibu, lalu beliau makan di piring kecil, sambil bilang, “Ibu mah lagi diet nih”.

Tidak berapa lama, Ibu menghampiri saya yang duduk di pojokan makan nasi goreng, tiba-tiba Ibu menyendok nasi goreng dari piring saya langsung dan bilang “Enak geuning, bagi Ibu nya, Tiek”. Kaget saya, tidak menyangka sikap Ibu sebegitu akrab pada saya, yang hanyalah PNS biasa. Jadi, malam itu kami berbagi nasi goreng dari piring yang sama.

Banyak sekali saat berkesan saya dengan Ibu. Ibu yang selalu ada di saat saya susah dan sedih. Ibu yang merajut sendiri mantel wool sebagai kado kelahiran anak ketiga saya. Ibu yang tiba-tiba datang ke rumah sakit ketika saya keguguran, padahal saya tidak memberitahu Ibu.

Ibu yang selalu menyediakan waktunya bagi saya untuk bercerita di saat beban kerja yang berat ada di pundak saya. Ibu yang tak pernah absen mengucapkan selamat ulang tahun pada saya. Ibu yang selalu berkirim bingkisan Lebaran, meski saya sudah tak bekerja lagi di Setda. Ibu yang tidak pernah mengeluh, meski sebenarnya Ibu merasakan ketidaknyamanan. Ibu yang selalu peduli dan peka pada sesama. Ibu, saya rindu…

Selamat jalan, Ibu… Surga menunggu Ibu di sana. Allah sayang sama Ibu, sayangNya lebih dari sayang saya sama Ibu. Saya sedih. Saya kehilangan. Tapi Saya mencoba ikhlas. Tak ada maksud lain, saya menulis ini hanya ingin mengantarkan Ibu ke tempat peristirahatan terakhir dengan cara yang ibu sukai. Tulisan. Ya hanya tulisan.

(Saya dedikasikan tulisan ini untuk Pak Dian Rachmat Yanuar, mentor saya, yang telah memberikan saya kesempatan untuk mengenal Ibu dari dekat. Adik-adikku tersayang, yang mungkin paling memahami perasaan saya saat ini, Santi Bin Ajaib dan Funnee Amaliasari Murtilam.)

Comments

Add a comment

mood_bad
  • No comments yet.
  • chat
    Add a comment
    keyboard_arrow_up