jejak peninggalaan kerajaan pajajaran kuningan jawa barat kuninganizercom

KUNINGANIZER.com – Informasi awal mengenai adanya sejumlah benda-benda antik peninggalan Kerajaan Pajajaran di wilayah Kuningan ini berasal dari tulisan Willem Hendrik, seorang Pangeran Belanda, yang mengunjungi Kuningan pada abad ke-19.

Pangeran Willem Frederik Hendrik (13 Juni 1820 – 13 Januari 1879) adalah seorang Pangeran Orange-Nassau. Ia anak ketiga dari Raja William II dengan Anna Paulowna.

Baca Juga: Saat Proklamasi Kemerdekaan 1945 Menggema di Kuningan

Pangeran Belanda ini merupakan satu-satunya keluarga Orange-Nassau yang pernah mengunjungi Indonesia (saat itu bernama Hindia Belanda). Di negeri kepulauan itu, ia memiliki tugas penting untuk proyek bijih timah sebuah perusahaan di Pulau Belitung.

Prins Hendrik tahun 1836
Prins Hendrik tahun 1836

Selain mengurus masalah bijih timah, ia juga mengunjungi Jawa dan menyusuri sejumlah daerah di pulau itu untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Berbagai pengalaman dan penemuannya diabadikan dalam sebuah buku yang berjudul Overzigt der Reis in Nederlandsch Indie. Buku yang diterbitkan Lands-Drukkerij Batavia (yang sekarang telah menjadi Jakarta) pada tahun 1838 itu memuat banyak informasi, salah satunya adalah mengenai penemuan barang-barang arkeologis terkait Kerajaan Pajajaran di Kuningan.

Pada halaman 73 magnum opusnya itu, Pangeran Willem Frederik Hendrik bercerita mengenai perjalanannya ke Kuningan yang berawal dari kunjungannya ke wilayah-wilayah Cirebon lain.

Setelah berencana mengunjungi wilayah Palimanang (Palimanan), Pangeran Orange-Nassau itu berkeliling di kota Cirebon dan menonton pertarungan harimau di dermaga serta melihat keindahan kuil/biara orang-orang Cina.

Lalu ia juga mengunjungi gua Soengie Ragie (Sunyaragi), di samping meneliti kandungan gula yang banyak dihasilkan di daerah pesisir utara Jawa itu bersama Mr G. Diard.

Selanjutnya, Pangeran Willem Frederik Hendrik melanjutkan perjalanannya ke arah selatan Cirebon dengan mengunjungi Kuningan, ke Telaga. Disana, ia mendapatkan banyak barang antik yang diidentifikasikan sebagai peninggalan-peninggalan kerajaan Pajajaran.

Kunjungan tersebut diakhiri dengan suatu pertemuan bersama Residen Cirebon dan asisten Residen Kuningan yang tengah dijabat oleh C. Loriaux. Terkait daerah yang bernama Telaga ini, kemungkinan besar adalah wilayah Talaga yang sekarang termasuk Kabupaten Majalengka. Di masa kolonial, daerah ini dimasukkan ke dalam wilayah Kuningan karena jaraknya lebih dekat dengan daerah Cigugur dan Kuningan.

Hal yang harus digarisbawahi dari kisah perjalanan Pangeran Belanda ini adalah eksistensi benda-benda cagar budaya peninggalan Pajajaran yang ada di Kuningan. Patut dipertanyakan dimanakah benda-benda itu disimpan setelah kedatangan Pangeran Hendrik tersebut, apakah disumbangkan dan disimpan di sebuah museum atau mungkin dibawa ke Belanda untuk dijadikan sebagai koleksi benda-benda antiknya?

Titik terang mengenai peninggalan-peninggalan bersejarah ini mulai terlihat saat diterbitkannya Oudheidkundige Verslag over het eerste kwartaal in 1914. Dalam laporan arkeologis itu, terdapat beberapa gambar benda-benda kuno yang bertuliskan “Hindoe-Javaans beeld te Telaga bij Koeningan”. Meski benda-benda purbakala itu belum diketahui dengan jelas keberadaannya, setidaknya kita masih bisa melihat nilai-nilai estetisnya melalui gambar-gambar yang ada dalam laporan tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here