Karena Membaca Tidak Selalu Menjadi Baik

Dengan membaca kita dibawa kebeberapa bahkan banyak pengetahuan. Namun membaca tidak selalu menjadi baik, dalam pengertian kalau kita tidak memperhatikan apa yang kita baca.

Jenis bacaan terbagi pada dua klasifikasi, yaitu fiksi dan non-fiksi. Kemudian menetas lagi menjadi kelompok lain pada masing-masing klasifikasi dua tersebut.

Seperti dalam fiksi terbagi kedalam fiksi jenis novel, cerpen, puisi. Begitupun dengan non-fiksi banyak juga ragamnya dari mulai sejarah, sains populer, jurnalisme dan banyak lain sebagainya, itu hanya beberapa sebagai contoh.

Dari sini kita belum bisa menemukan, kenapa membaca tidak selalu menjadi baik. Kegiatan menulis pada dasarnya adalah untuk mendokumentasikan apa yang terjadi, yang didapatkan untuk keperluan pribadi, banyak orang pada masanya atau masa mendatang.

Tidak bisa dibayangkan kalau pemikiran-pemikiran besar dari para ilmuan, filosof zaman dulu tidak pernah dituliskan. Kita tidak akan menjumpai perkembangan ilmu pengetahuan, tidak ada peradaban moderen seperti sekarang, yang kita sendiripun menjadi bagian didalamnya.

Semuanya mengalami pembeharuan, kalau tidak bisa disebut sebagai penyempurnaan. Boleh kita sebut itu peralihan pengetahuan lama ke pengetahua baru yang akurasinya melebihi capaian sebelumnya. Tidak akan disebut perkembangan kalau itu hanya jalan ditempat.

Kemudian sampai pada akhirnya dengan membaca karya-karya tersebut adalah jalan untuk tercerahkan (banyak pengetahun) kalaupun tidak semua kita mampuh merangkumnya dalam pikiran.

Membuat klasifikasi bacaan mana yang pantas dijadikan sebagai rujukan, adalah sama rumitnya dengan membendung arus bisnis literasi. Ide manusia dari mulai yang benar mempunyai kredibelitas, mempunyai kapasitas setandar untuk berbicara dibidang ke ilmuan tertentu, sampai ide serampangan (bukan ahli) diproduksi marak secara besar kedalam bentuk literasi (buku, makalah, esai dll).

Bisa kita lihat kualitas pemikiran orang (pembaca) dibentuk oleh jenis bacaannya. Baik itu pembaca fiksi, non-fiksi atau bahkan keduanya. Bagaimana kalau ternyata bacaan kita adalah yang menyampaikan kebohongan, pemahaman yang keliru ? Kita bisa verifikasi.

Tetapi karena orang lebih cenderung mudah mengikuti, menerima secara mentah informasi yang diterima. Kesalahan informasi itulah yang kemudian diedarkan sampai akhirnya mempengaruhi pikiran lain. Dalam versi penyampaiannya yang berbeda-beda. Kekeliruan menyebar luas, celakanya sudah terlanjur itu dianggap sebagai kebenaran.

Masih beruntung mereka yang gagal paham kebenaran, dibandingkan dengan mereka yang sudah menerima kesalahan tetapi ditungtut memahami kesalahan tersebut. (Dengan nada memaksa).

Disinilah kenapa “Membaca Tidak Selalu Menjadi Baik”. Membaca apa saja tanpa kontrol, dengan kemampuhan daya pikir yang serba terbatas, tanpa bimbingan para ahli.

Comments

Add a comment

mood_bad
  • No comments yet.
  • chat
    Add a comment
    keyboard_arrow_up