Kelahiran Ekonomi Kerakyatan sebagai Antitesis Kapitalis Liberal

Konsep ekonomi berbasis komunitas merupakan salah satu metode dan strategi yang digunakan dalam penguatan ekonomi masyarakat dalam perlawanan terhadap dominasi korporasi dan ekonomi pasar bebas yang berpaham individualis, eksploitatif, dan bertumpu pada kekuatan modal.

Disinilah ide Ekonomi Kerakyatan lahir sebagai antitesis terhadap paham ekonomi liberalis dan kolonialis, bergulir sejak jaman pra-kemerdekaan.

Makna yang terkandung dalam Kerakyatan disini adalah rakyat sebagai konsepsi politis, bukan konsep aritmatis statistik belaka, yang bisa berarti siapa saja dapat dikategorikan sebagai rakyat. Kolektivitas dari kepentingan orang banyak (public needs), bukan kepentingan orang per orang dan bukan akumulasi dari preferensi atau kepentingan individu-individu, melainkan preferensi sosial yang sesuai dengan hajat hidup orang banyak.

Ekonomi Kerakyatan mempunyai syarat sah atau sebuah keharusan. Untuk terjadinya sistem ekonomi ini adalah dengan adanya topangan dari level akar rumput, dimana rakyar mempunyai kesempatan berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi. Sehingga akan mendorong timbulnya self sufficient (menghidupi sendiri), dan self empowering (membangun diri). Bersumber dari rakyat, dikelola oleh rakyat, sehingga nilai tambah ekonomi dan sosial dirasakan nyata.

.Dalam sejarah ekonomi politik indonesia sejak zaman Hindia- Belanda dan dipastikan sampai hari ini, mempunyai dua warna mengenai ekonomi masyarakat (dualisme). Dua warna inilah yang membentuk persepsi dalam kegiatan ekonomi masyarakat indonesia. Suasana ekonomi masyarakat yang pra-kapitalis bertatap wajah dengan ekonomi kolonoal yang kapitalis. Kondisi dualistik inilah yang menjadikan ekonomi msyarakat pribumi terasing dari praktik kebijakan ekonomi yang ditetapkan pemerintah kolonial.

Keadaan seperti itu (Dualisme ekonomi politik) kemudian terulang terjadi pada masa kemerdekaan. Antara ekonomi kerakyatan yang berorientasi pada pemberdayaan ekonomi rakyat mikro dan ekonomi konglomerasi yang berorientasi pada kgiatan ekonomi bersekala besar juga padat modal.

Dalam sejarah kelahirannya, Ekonomi kerakyatan ialah konsep yang lahir dari perdebatan-perdebatan cukup panjang antara pemikir Ekonomi pada waktu itu. Ada dua tokoh yang disoroti disini, yaitu Srbini Sumawiyatna dan Mubyarto. Dari kedua pemikir ekonomi tersebut mempunyai landasan yang berbeda dalam perumusan Ekonomi Kerakyatan, atas dan bawah. Hal ini adalah pembeda rumusan Srbini dengan Mubyarto.

Srbini dengan Ekonomi Kerakyatannya lebih dikenal sebagai program yang didorong dari atas, sementara Ekonomi Kerakyatan Mubyarto lebih merupskan strategi pemberdayaan tingkat bawah. Namun pada intinya semuanya menentang ekonomi liberal atau kapitslisme liberal.

Ekonomi Kerakyatan selalalu menjadi ancaman bagi kaum pemuja berhala kapitalis, neoliberal yang egosentris terhadap pemerataan kesejahteraan melalui pemenuhan domestik. Sejak lama sampai dewasa ini, Ekonomi Kerakyatan berada pada posisi kepungan kebijakan ekonomi liberal, sistem ekonomi inilah yang sering menyebut bahwa Ekonomi Kerakyatan sebagai sebab kemandekan perekonomian negara. Namun sejatinya itu adalah ungkapan sinis belaka.

Pada krisis ekonomi regional Asia Tenggara tahun 1997-1998 dan krisis global tahun 2008 adalah krisis ekonomi pada level konglomerasi dan tidak berdampak sedikitpun pada kegiatan ekonomi mandiri (Ekonomi Kerakyatan). Kalau Indonesia mau kembali memperhitungkan kembali dengan dan tanpa dipolitisasi oleh elit, maka bukan ilusi lagi itu akan benar menjadi benteng kemandirian yang kokoh dengan ciri utama pasar domestik dan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat. Inilah yang merupakan medan ekonomi rakyat.

Kenyataan hari ini memang sistem ekonomi yang demikian, kecil saja suranya dimeja diskusi kalangan intelektual ekonomi muda bahkan senyap samasekali. Kalau hanya nyaring teriak osang-asing saja tidak akan menghasilkan hal yang berdampak menguntungkan rakyat. Ekonomi neoklasik, neoliberal telah menggerus kegiatan ekonomi komunal, memberikan kesenjangan sosial-ekonomi makin lebar. Melebarnya ketimpanagn pembangunan ini bisa melahirkan domino berupa keretbelakangan dan proses marjinalisasi masyarakat miskin yang tidak bisa keluar dari property trap, pusaran kemiskinan, ketergantungan makin kronis karena makin menjauhnya proses produksi kreatif yang melibatkan rakyat.

Sistem apakah yang bisa menjadi alternatif di luar kapitalisme-neoliberal ? kalau pertanyaannya demikian. Jawabannya : “Ekonomi yang pro-rakyat”. Jawaban ini bisa diperdebatkan, tetapi alangkah lebih arifnya dipertimbangkan kebali lebih dulu.

Discalaimer : Destinasi wisata jauh terpencil banyak ditemukan dan digaungkan anak muda sebagai ajang promosi bagi yang kurang piknik. Masa terobosan untuk hal yang lebih serius kalian enggan. Ayolah yang sudah masuk tabulasi calon mantu idaman versi kuninganizer.com ambil jeda bermain sambil promosi surga kecil didaerah, kegiatan ekonomi bukan hanya terpokus pada sektor pariwisata saja.

Kepustakaan :Sri Edi-Swasono, Koperasi sebagai Ideologi Kerakyatan dan Kekuatan Ekonomi Nasional.

Comments

Add a comment

mood_bad
  • No comments yet.
  • chat
    Add a comment
    keyboard_arrow_up