Kuningan yang Senyap di Masa Bersiap

Saat Perang Revolusi fisik berkecamuk di awal negeri ini berdiri, huru-hara yang bersifat rasial terjadi dimana-mana. Masyarakat pribumi yang di masa kolonial berada di “kasta” terbawah (setelah kelompok Eropa dan Timur Asing), meningkat statusnya menjadi penguasa dan berada di puncak hierarki struktur sosial masyarakat. Kelompok masyarakat yang dulunya selalu tertindas itu, kini berada di atas angin dan (sebagian kecil) ingin menjadi penindas.

Bentrokan terjadi dimana-mana, keadaan desa-desa dan terlebih kota-kota menjadi begitu mencekam. Eksistensi orang-orang yang berkulit putih (Eropa) dan kuning (Cina) berada dalam kondisi siaga satu, karena maut akibat dendam masyarakat bisa mengancam mereka kapan dan dimana saja.

Untuk pendatang asal Timur Tengah, kehadiran mereka tidak terlalu dipermasalahkan masyarakat karena terdapat faktor kesamaan keyakinan dan ideologis yang menyatukan perbedaan mereka.

Berdasarkan kisah yang telah diceritakan secara turun menurun, aksi sadis seperti itu pernah pula terjadi di Cilimus, Kuningan. Disana, orang-orang Cina (totok maupun keturunan) menjadi incaran amukan massa, khususnya massa yang merasa pernah dirugikan oleh para pendatang kawasan oriental tersebut.

Bukan karena dulunya kelompok asal Timur itu sering menindas kaum bumiputera saja, tetapi ada juga faktor-faktor lain seperti kecemburuan sosial, kecurigaan intelijen, dan lain-lain.

Dalam perang mempertahankan kemerdekaan, kaum pendatang asal Asia Timur itu sering berperan sebagai telik sandi (mata-mata) para tentara KNIL (Belanda) yang tengah berupaya kembali menancapkan kekuasaannya di bumi Nusantara. Tentunya, hal itu membuat TNI sangat murka sehingga tidak jarang kaum keturunan asing itu pun menjadi target operasi militer tentara Indonesia.

Sementara itu, kesenjangan sosial yang terjadi di masa itu cukup menjadi alasan bagi para penggerak perubahan untuk melakukan tindak kejahatan. Aksi-aksi semacam ini menyasar rumah-rumah besar tuan-tuan Cina untuk dijarah harta bendanya.

Meski begitu, tidak jarang kaum peranakan Cina yang juga turut membantu perjuangan rakyat Indonesia. Pada umumnya, orang-orang Cina yang berjuang bersama masyarakat Indonesia ini adalah mereka yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Mereka merasa bahwa rakyat Indonesia kalangan yang memiliki nasib dan keadaan yang sama. Karenanya harus diperjuangkan dan dibela.

Beberapa nama orang-orang Cina yang turut melawan Belanda bersama masyarakat Indonesia di medan perang Cilimus Kuningan adalah Babah Cintong, Osay, dan Pakcan. Sayangnya, untuk hal yang positif ini jarang sekali ter-ekspose ke khalayak umum.

Peran strategis sejumlah pejuang beretnis Cina dalam proses perjuangan dan kegiatan militer Indonesia, tidak membuat gerakan massa yang hendak meruntuhkan eksistensi komunitas Tiongkok di Kuningan itu menjadi terhenti. Bahkan, kemudian benar-benar terjadi dan semakin menjadi tidak terkendali. Cukup banyak korban yang berjatuhan, khususnya dari komunitas Cina.

Tragedi berdarah itu sangat menyeramkan dan menakutkan banyak pihak sehingga situasi Kuningan pun menjadi mencekam. Keramaian hanya ada di siang hari, banyak rumah-rumah penduduk yang sudah tertutup rapat saat senja mulai menyapa. Kuningan menjadi senyap saat Masa Bersiap.

Terlampir adalah salah satu bukti otentik berupa photo berangka tahun 1947 yang menunjukkan bahwa tindakan mata-mata Cina terkadang bisa brakibat sangat buruk pada mereka. Photo dari KITLV Leiden, Belanda.

Comments

Add a comment

mood_bad
  • No comments yet.
  • chat
    Add a comment
    keyboard_arrow_up