Menerka Identitas Arca di Wilayah Rimbun Citundun, Ciwaru Kuningan

KUNINGANIZER.com – Lagi-lagi Kuningan geger. Sekelompok warga Kampung Karangsari, Desa Citundun, kecamatan Ciwaru, Kuningan, mengemukakan situs kuno yang berisi pelbagai benda peninggalan masa lalu. Situs yang telah disambangi oleh Tim Balai Arkeologi Bandung dan Dinas Pariwisata dan Budaya Kuningan pada tanggal 24 April 2016 itu berisi beberapa arca dengan pelbagai bentuk.

arca sebelum dilakukan penggalian
arca sebelum dilakukan penggalian via Nhaynhoyy Hidayah

Lokasi situs arca Citundun ini sungguh indah karena berada dalam sebuah lingkungan sawah, yang dikelilingi oleh jejeran perbukitan. Kalau tidak salah ada tiga bukit yang mengelilinginya. Area tersebut berada dalam ketinggian sekitar 450 meter di atas permukaan laut. Kemiringan lereng yang ada sekitar 25 derajat. Sumber air terdekatnya adalah sungai, yang jaraknya kurang lebih sekitar 70 meter dari situs tersebut. Tempat ini bisa diakses saat anda akan menuju Cadas Gantung, wisata baru yang juga sempat menghebohkan Kuningan beberapa bulan belakangan ini.

Baca Juga: Makam Kuno dan Jejak Peninggalan Budaya Jawa di Tanah Sunda

Berbagai penemuan arca di wilayah Kuningan sebenarnya bukanlah yang pertama kali terjadi. Upaya ini telah dilakukan sejak dahulu, bahkan sebelum Indonesia merdeka. Di era kolonial, terdapat sejumlah peninggalan-peninggalan masa lalu yang diidentifikasi sebagai warisan Pajajaran.

Di antara barang-barang yang ditemukan itu adalah patung dengan unsur-unsur Hindu yang kuat, semacam baju pelindung berperang, peralatan dari bahan-bahan logam, dll. Benda-benda kuno ini pernah diceritakan dalam Overzigt der Reis in Nederlandsch Indie terbitan tahun 1838 oleh Willem Frederik Hendrik, satu-satunya Orange-Nassau yang pernah ke Hindia.

Pada masa Indonesia merdeka, penemuan itu semakin jamak terjadi. Hal itu dibuktikan dengan adanya penyebaran bangunan-bangunan megalitik yang ada di sekitar sisi timur lembah Ciremai. Dalam penelitiannya, Ivan Efendi mengungkapkan bahwa persebaran tempat itu didasari oleh beberapa faktor tertentu, salah satunya adalah variabel alam. Penemuan sejumlah warisan peradaban masyarakat masa lalu itu memang sangat menggembirakan dan pasti disambut banyak harapan.

Karena selain dapat menjadi media penggali kisah sejarah dan peradaban masa lalu, tentunya dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan bersama, khususnya masyarakat setempat. Kita tidak dapat menafikkan hal itu. Namun sayangnya, jika tidak segera ditangani dengan baik, maka puluhan arca (atau mungkin lebih?) yang ditemukan di Citundun itu bisa saja menjadi tidak bermanfaat karena adanya tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Selain dapat dirusak dengan alasan wisata, bisa juga dijarah dengan alasan ekonomi.

Peninggalan-peninggalan Pajajaran, yang diperlihatkan pada awal tulisan, kini tidak diketahui rimbanya. Benda-benda kuno yang juga diceritakan dalam beberapa jurnal ilmiah Belanda itu, kini seakan hilang tak berjejak. Sementara itu, sebaran bangunan megalitik yang dibicarakan setelahnya, juga sebagian di antaranya dalam keadaan yang amat memprihatinkan karena tidak adanya inisiatif bagi pengurusan ataupun pelestariannya, hanya dibiarkan begitu saja.

Kita harus belajar dari pengalaman, agar situs arca Citundun ini tidak mengalami nasib yang serupa dengan nasib benda-benda peninggalan Pajajaran dan beberapa situs kuno di lembah Ciremai. Semoga benda-benda kuno di Citundun ini dapat dijaga kelestariannya agar dapat terus dinikmati nilai seni dan sejarahnya oleh kita dan anak keturunan kita di kemudian hari. Semoga..

Comments

Add a comment

mood_bad
  • No comments yet.
  • chat
    Add a comment
    keyboard_arrow_up