Saat Ciwaru menjadi Pusat Pemerintahan Keresidenan Cirebon

KUNINGANIZER.com – Ciwaru merupakan sebuah desa sekaligus kecamatan di wilayah Kabupaten Kuningan. Kecamatan ini terletak di bagian timur Kuningan, yang di masa awal proklamasi Indonesia langsung berbatasan dengan wilayah Jawa Tengah (sebelum kemudian bagian timur Ciwaru ini memisahkan diri dan menjadi kecamatan Karangkancana).

Dengan topografi dataran yang tidak rata, Ciwaru menjadi wilayah yang kondisi geografisnya dipenuhi dengan perbukitan dan pegunungan, yang kecil namun memanjang hingga ke wilayah Jawa Tengah. Di masa revolusi fisik, Ciwaru memainkan peranan yang sangat penting bagi keberlangsungan bangsa Indonesia dalam upayanya mendapat pengakuan dunia.

Daerah ini menjadi salah satu basis vital perjuangan rakyat Indonesia melawan aksi agresi militer Belanda yang ingin kembali menancapkan kekuasaannya di bumi pertiwi ini. Dimulai dari kekecewaan pihak Belanda terhadap Persetujuan Linggarjati, van Mook yang saat itu menjadi pimpinan tertinggi Belanda di Indonesia, mengultimatum para pejuang Indonesia untuk mundur sejauh 10 km dari garis demarkasi yang telah disepakati.

Penolakan yang dilontarkan oleh pihak Republik kontan saja membuat van Mook naik pitam sehingga kemudian berencana melaksanakan apa yang dikenal sebagai Agresi Militer I Belanda.

Serangan Belanda yang memasuki wilayah Kuningan sejak 25 Juli 1947, membuat para administratur dan tentara Republik di sekitar wilayah Cirebon terdesak. Pada akhirnya kemudian mereka mengungsi ke wilayah-wilayah yang dianggap jauh dari jangkauan para serdadu KNIL (Koninklijk Nederlands-Indische Leger yang secara harfiah diartikan srbagai Tentara Kerajaan Hindia Belanda).

Beberapa wilayah yang menjadi tempat pengungsian itu adalah Ciwaru, Subang, Cibingbin, dan lain-lain. Pada masa itu, Ciwaru bahkan menjadi pusat pemerintahan Karesidenan Cirebon yang secara resmi diputuskan pada akhir Juli 1947 oleh Keputusan Dewan Pertahanan Keresidenan Cirebon dan Brigade V Siliwangi.

Dalam sebuah buku Dewan Harian Cabang Angkatan ’45 Kabupaten Kuningan (2006), tercatat bahwa Karesidenan Cirebon yang berpusat di Ciwaru itu dipimpin oleh Residen Hamdani, dengan Sekretaris Keresidenan Abdurrachman dan Kepala Bagian Umumnya adalah Hartono Sugra.

Dalam Gangsters and Revolutionaries: The Jakarta People’s Militia and the Indonesian Revolution 1945-1949, Robert Cribb mengungkapkan posisi penting Ciwaru di masa revolusi kemerdekaan: “Ciwaru was an ideal point from which to conduct an armed struggle in West Java, since it lay in the heart of a mountainous area relatively safe from Dutch attack and it controlled the Republic’s main overland line of communications between Central and West Java now that the Dutch had occupied most of the lowlands and main roads.”

Kesimpulan uraian Cribb tersebut, pemilihan Ciwaru sebagai pusat gerilya para pasukan TNI beserta lasykar-lasykar Indonesia di wilayah Cirebon (bahkan Jawa Barat) itu bukanlah tanpa sebab.

Ciwaru adalah titik yang sangat ideal untuk melakukan perjuangan bersenjata di Jawa Barat, karena memang posisinya sangat strategis yaitu terletak di jantung daerah pegunungan yang relatif aman dari serangan Belanda.

Disana, garis utama komunikasi antara orang-orang pro-Republik Jawa Tengah dan Jawa Barat dikendalikan dan dihubungkan. Sementara itu, sebagian besar wilayah Kuningan lain, khususnya wilayah perkotaan dan jalan-jalan utama, telah dikuasai oleh para serdadu Belanda.

Dalam perkembangannya kemudian, kelebihan kondisi geografis Ciwaru tersebut juga dimanfaatkan oleh sejumlah pihak (bersenjata) yang menentang dan melawan Republik Indonesia, yang di antaranya adalah pasukan Bambu Runcing dan gerombolan DI/TII.

Comments

Add a comment

mood_bad
  • No comments yet.
  • chat
    Add a comment
    keyboard_arrow_up