Sebuah Ajakan Menulis dengan Kejujuran juga Sederhana

Senin malam kemarin saya memenuhi undangan minum kopi dan ngobrol soal pengelolaan media digital, karena kami tergolong masih pemula dan tak begitu lapang pengetahuan tentang itu, obrolan satai berubah menuntut kita untuk sama-sama memutar bertukar pikiran. Orang yang saya jumpai adalah salah seorang juru dapur web Kuninganizer.com, rangkap sebagai wirausahawan. Ini bisa salah, tetapi sementara begitu yang saya tau.

Persoalannya yang tengah dihadapi pengelola media (read : Dadang Sobali) bukan cuman soal bagaimana mengemas media digital untuk mampuh menarik minat pembaca, sesuai pasar pembaca yang sudah ditentukan sebelumnya. Ada kerepotan lain juga yang masih kursial, seperti bagaimana kita bisa menjadi psilitator, penyelenggara informasi untuk masyarakat.

Salah satu parameter media dikatakan bagus, layak dan pantas dijadikan sumber bacaan adalah dari jenis tulisan/berita yang disajikan, sampai mana itu mampuh merangsang opini publik agara menjadi cerdas juga kritis. Jalaludin Rakhmat dalam sebuah bukunya (Pisikologi Komunikasi) : “Kita ingin tahu bukan untuk apa kita membaca surat kabar atau menonton televisi, tetapi bagaimana surat kabar dan televisi menambah pengetahuan, mengubah sikap atau menggerakan prilaku kita.”

Jelas diungkapkan bahwa sebenarnya kita lebih tertarik, bukan karena telah melakukan apa pada media, tapi sumbangsih apa yang media berikan pada kita. Kita tetapkan sebagi media dalam bentuk apa saja disini.

Tak jarang hari ini kita menemukan berita yang belum terverifikasi dipublikasikan hanya untuk menutupi kemalasan para jurnalis nalar kecut dan demi populeritas medianya yang berperan sebagai pendistribusi berita. Kejujuran digadaikan pada nominal semata, kaidah atau kode etik jurnalisme dikhianati dalam soal ini, kebenaran dan fakta seolah menjadi barang langka.

Jurnalistik sudah dijumpai dari sejak lampau keberadaannya, minat dibidang ini begitu banyak dari pelbagai kalangan. Seperti yang sudah kita ketahui, jurnalistik berhubungan langsung dengan kegiatan tulis-menulis (pengabaran tertulis) tentu harus bisa menulis sebagai prasarat.

Kita punya ajakan terbuka, namun bukan hanya yang berminat dan mempunyai keterampilan menulis saja yang kita cari/ajak, banyak variabel lain tentunya.
Kami (Read : pengelola Media) mengajak mereka yang mempunyai dedikasi tinggi, yang mampuh bergelut dibidang jurnalistik dengan jujur, menempatkan segalanya diatas fakta yang ada, mengungkap yang realis bukan memberikan keutopisan.

Catatan: bukan hanya untuk kuninganizer.com saja, saya yakin semua penggiat dalam bidang pengabaran, baik cetak maupun digital gencar juga dalam hal serupa, mencari kemudian memilih author yang profesionalis, ihwal hanya berburu warta.

Menulis bukan hal yang mudah buat siapapun, dimana kemampuhan berkontemplasi dikerahkan untuk memberikan pengertian-pengertian. Maka itu menjadi kemewahan tersendiri. Tetapi menulis sederhana penuh kejujuran, tanpa harus membubuhi dengan jargon-jargon akademik yang membingungkan pembaca, sama mempunyai nilai lebih.

Keutamaan tulisan berita adalah kejujuran.

Menulis bisa sebagi hobi, sebagai cara untuk berpenghasilan. Ketika berani tampil diruang publik atau media publik, maka tidak ada pengecualian apapun

“Jangan Ada Dusta Antara Kita”

(Jurnalistik, media, kepada pembaca).

Comments

Add a comment

mood_bad
  • No comments yet.
  • chat
    Add a comment
    keyboard_arrow_up