Makam Kuno dan Jejak Peninggalan Budaya Jawa di Tanah Sunda

KUNINGANIZER.com – Makam adalah tempat peristirahatan terakhir bagi seorang manusia di dunia. Di dalam makam yang biasanya berbentuk gundukan tanah itu, jasad manusia disimpan dan dikuburkan.

Dalam konteks sejarah, makam merupakan salah satu peninggalan nyata dari masa lalu yang masih dapat dilihat hingga sekarang. Ada banyak komponen yang menyusun makam, di antaranya adalah jirat (kijing), nisan, dan cungkup.

Jirat adalah bagian terdasar makam karena merupakan pondasi bangunan. Sedangkan nisan adalah papan yang biasanya dipasang di atas kijing. Bahannya bisa dari kayu, batu ataupun logam. Sementara itu, bagian terakhir adalah cungkup, yang merupakan atap dari seluruh bagian makam.

Di wilayah Luragung, ada sejumlah makam kuno yang belum banyak ditelisik secara ilmiah ataupun akademis. Makam-makam tersebut masih tidak “terjamah” umum karena dikeramatkan oleh masyarakat setempat. Status sakral itu membuat banyak orang tidak berani mendatanginya, kalaupun ada yang berani datang, itu terbatas pada mereka yang memiliki tujuan-tujuan tertentu saja.

Beberapa makam kuno yang ada di daerah Luragung adalah Makam Dalem Panji, Makam Buyut Ratu Pakuan, dan Makam Buyut Jakati. Makam Dalem Panji terletak di pemakaman umum Desa Luragung Tonggoh.

Makam yang banyak diapit oleh nisan-nisan kuna anonim itu memiliki pondasi bata yang berbentuk makin kecil ke bagian atasnya. Nisan makam yang tersebar di areal tersebut berbentuk segitiga dengan ragam hias flora. Untuk Makam Buyut Ratu Pakuan, posisinya berada di Desa Dukuhmaja, bagian selatan Luragung.

Pondasi makam ini adalah susunan batu alam yang berbentuk persegi panjang. Nisannya berupa batu tegak yang sepertinya terbuat dari andesit. Terakhir, Makam Buyut Jakati, terletak di Desa Sindangsari. Makam yang dikenal pula sebagai Makam Bulet ini memiliki 2 nisan yang memiliki bentuk badan trapesium dengan ragam hias.

Nisan makam Buyut Jakati
Nisan makam Buyut Jakati (1)

Jika dilihat dari segi bangunan ketiga makam tersebut, setidaknya ada 2 bentuk nisan yang ada: (1) Nisan tegak yang terbuat dari batu; dan (2) Nisan pipih yang memiliki ragam pola hias. Untuk tipe nisan yang pertama, menunjukkan anasir-anasir lokal yang masih kuat dengan adanya pemakaian unsur-unsur lama dalam nisan.

Nisan yang ada di areal pemakaman Dalem Panji
Nisan yang ada di areal pemakaman Dalem Panji (2)

Sedangkan nisan dengan tipe kedua menunjukkan adanya unsur-unsur Islam yang mulai datang dan memengaruhi pembentukan struktur makam masyarakat, meski unsur-unsur lama masih cukup kuat terlihat. Tipe kedua ini, disebut oleh Hasan Muarif Ambary dalam Menemukan Peradaban, Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia, sebagai nisan makam tipe Demak-Troloyo, yaitu nisan yang dipakai oleh para penyebar Islam awal di beberapa daerah seperti di pemakaman Sunan Gunung Jati di Cirebon dan pemakaman Raden Fatah di Demak.

Penelusuran tersebut secara tidak langsung turut memperkuat asumsi yang berkembang selama ini, bahwa perkembangan Islam di banyak wilayah di Kuningan dirintis oleh para pendatang asal daerah lain, seperti Cirebon, dan Mataram.

Dua wilayah asal para pegiat Islam awal di Kuningan itu berbudaya Jawa, sehingga tidak mengherankan ada banyak aspek dan hal di Kuningan yang notabene wilayah berkebudayaan Sunda ini menyerupai dengan pelbagai adat dan tradisi yang berkembang di wilayah berbudaya Jawa.

Wallahu’alam..

Comments

Add a comment

mood_bad
  • No comments yet.
  • chat
    Add a comment
    keyboard_arrow_up