Sekelumit Kisah Gempa Besar Tahun 1875 di Kuningan

KUNINGANIZER.com – Lini atau gempa bumi merupakan guncangan di permukaan bumi yang terjadi akibat pelepasan energi dari dalam bumi. Gempa biasanya terjadi akibat adanya gelombang seismik atau rambatan energi yang menjalar karena adanya patahan atau ledakan di dalam lapisan bumi. Gejala alam ini seringkali menimbulkan kerugian, baik itu korban jiwa maupun berwujud materil.

Gempa terbesar yang tercatat dalam sejarah umat manusia adalah gempa Chile 1960. Gempa yang mencapai skala 9,5 richter ini menimbulkan sekitar 1.655 korban jiwa, ribuan lainnya luka-luka dan jutaan orang kehilangan tempat tinggal.

Di Indonesia, gempa terbesar terjadi pada 2004 di lepas pantai Sumatera. Gempa berkekuatan 9,1 skala richter yang menimbulkan tsunami itu memakan korban ratusan ribu orang yang tersebar di sejumlah negara Asia dan Afrika.

Untuk konteks Kuningan, dalam kurun waktu tertentu, gempa terjadi baik itu dalam skala yang kecil maupun yang besar. Sebagai wilayah yang tersambung dalam rangkaian lempengan tertentu, Kuningan termasuk daerah yang rawan gempa.

Kepala Bidang Teknik Penyehatan, Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Kuningan, Atoni pernah mengungkapkan bahwa, “Belasan desa di sejumlah kecamatan telah dipetakan sebagai daerah rawan gempa, antara lain Desa Sampora, Cilimus, Kaliaren dan Cibeureum yang berada di Kecamatan Cilimus.

Baca Juga: Saat Ciwaru menjadi Pusat Pemerintahan Keresidenan Cirebon

Ada pula Desa Pangembangan, Trijaya dan Randobawagirang di Kecamatan Mandirancan dan Desa Koreak di Kecamatan Cigandamekar, Desa Cipicung dan Cidahu di Kecamatan Luragung, Desa Gunung Sirah di Kecamatan Cimahi serta Desa Bantar Panjang di Kecamatan Cibingbin.

Gempa besar yang pernah tercatat dalam sejarah Kuningan adalah gempa yang terjadi pada Oktober 1875, dimana Nusantara masih dikuasai oleh pemerintah kolonial Belanda. Saat itu gempa terjadi karena adanya pergeseran lempengan bumi.

Sebagaimana diketahui, lempengan terkait berbentuk patahan/sesar yang memanjang antara Pelabuhan Ratu hingga ke utara Padalarang, antara Cilacap hingga Kuningan, dan terus mengarah ke barat laut. Akibat peristiwa itu, beberapa wilayah Kuningan dilanda longsor dan beberapa sarana serta prasarana umum hancur atau rusak berat.

Hiruk pikuk bencana alam itu menggemparkan tanah Hindia, bahkan penguasa asing Belanda sempat menerbitkan buku yang isinya adalah tulisan mengenai saksi kejadian tersebut. Dalam Natuurkundig Tijdschrift voor Nederlandsch Indie terbitan tahun 1875, J. Strikwerda, JZ menjelaskan perasaannya saat peristiwa itu terjadi.

Ia yang tengah berada di sebuah bangunan merasa begitu ketakutan ketika gemuruh tanah terus menggema dan suara retak bangunan semakin nyaring. Strikwerda tidak dapat berbuat apa-apa, untuk menyelamatkan diri ia sampai harus merangkak agar bisa keluar dari gedung itu. Ia mengenang, “Van mijn stoel op willende staan, sloeg ik tegen den grond, zoo sterk golfde dezelve, zoodat ik niet dan kruipende het gebouw kon verlaten.”

Bencana, betapapun kecilnya, selalu akan meninggalkan duka. Lebih-lebih bila bencana itu terjadi dalam skala yang sangat besar, duka itu bisa menjelma menjadi sebuah penderitaan. Oleh karena itu, kita harus terus sigap dan siap agar ketika ada bencana terjadi kita bisa menghadapinya dengan baik dan sabar. Semoga Kuningan selalu tenteram, aman dan nyaman..

Terlampir adalah foto di Desa Darma yang menunjukkan adanya tanah longsor akibat terjadinya sejumlah gejala alam di awal abad ke-20. Foto diambil pada tahun 1934, sumber Tropen Museum Belanda.

Comments

Add a comment

mood_bad
  • No comments yet.
  • chat
    Add a comment
    keyboard_arrow_up