Selembar Catatan Persekutuan Aneh dalam Perang Kemerdakaan

Sebagian dari kita mungkin pernah menonton film-film yang bercerita tentang petualangan seorang agen mata-mata yang ditugaskan oleh suatu badan khusus.

Kemampuan agen itu biasanya digambarkan dengan sangat sempurna karena ia dapat melakukan banyak hal di luar batas kemampuan manusia pada umumnya.

Dalam menjalankan tugasnya, agen tersebut akan melakukan penyamaran, penyadapan, pencarian informasi, kegiatan sabotase, dan lain-lain. Secara umum, agen khusus semacam itu dikenal sebagai intel dan data akurat nan faktual yang didapat oleh seorang agen biasanya disebut dengan intelijen.

Meski demikian, kata intelijen juga sering digunakan oleh khalayak luas untuk menyebut pelaku pengumpul informasi tersebut, baik itu yang berbentuk sebuah dinas intelijen maupun seorang agen.

Kegiatan intelijen telah ada sejak awal perkembangan umat manusia, bahkan untuk pembenarannya sampai ada sebuah idiom yang berbunyi, “Intelijen itu ada seusia dengan keberadaan manusia”. Intelijen dibutuhkan oleh hampir semua negara, baik itu yang telah merdeka maupun yang masih berbentuk kelompok perjuangan, karena memang dapat menopang ketahanan negara dan keberhasilan suatu perjuangan.

Dalam konteks Indonesia, kegiatan intelijen telah ada sejak masa kerajaan-kerajaan tradisional dengan diketahuinya keberadaan para telik sandi. Di era yang lebih modern, pada masa penjajahan Belanda, dinas kepolisiannya memiliki “Politieke Inlichtingen Dienst” (PID) yang tugasnya memata-matai pelbagai kegiatan masyarakat yang dianggap dapat membahayakan eksistensi mereka di tanah Nusantara. Dengan wewenang “exorbitante rechten” dari Gubernur Jenderal yang digenggam, PID menjadi momok yang sangat menakutkan pada masa itu.

Pada masa pendudukan Jepang, fungsi PID digantikan oleh unit polisi Kempeitai dan Tokko-koto (Bagian Spesial). Satuan khusus ini sangat ditakuti karena dikenal selalu bertindak keras dalam melaksanakan tugasnya.

Baca Juga: Makam Kuno dan Jejak Peninggalan Budaya Jawa di Tanah Sunda

Dalam periode Revolusi Kemerdekaan, aktivitas keintelijenan di antara pihak Indonesia dan pihak Belanda tetap marak dan sangat aktif. Pemerintah Indonesia dan badan-badan perjuangan melakukannya dengan metode telik sandi yang digunakan dalam proses pengintaian dan memata-matai aktivitas orang-orang Belanda maupun Jepang ketika itu. Di pihak yang lain, Belanda juga melakukan hal yang serupa.

Mereka memasukkan antek-antek mereka ke tengah masyarakat agar bisa memperoleh informasi mengenai pergerakan pasukan-pasukan republik. Terdapat ketimpangan operasi intelijen di antara dua pihak yang berseteru tersebut, jika pemerintah Indonesia hanya memakai pola sederhana dengan banyak memanfaatkan masyarakat umum yang bersimpati bagi perjuangan kemerdekaan, maka Belanda menggunakan cara-cara yang lebih canggih dan bahkan menggunakan dana finansial yang besar untuk membeli kesetiaan agen-agen mereka.

Di wilayah Kuningan, kegiatan intelijen juga ramai dilakukan. Pasukan TNI memakai jasa masyarakat untuk mendapat dan mengirim informasi dari satu pos ke pos lainnya. Informasi-informasi itu biasanya berbentuk surat dan lembaran kertas.

Untuk mengelabui pihak Belanda, para kurir yang tanpa pamrih tersebut menyembunyikan surat-surat militer di sekujur tubuh atau barang bawaan mereka. Barang dagangan, kendaraan, peci, sarung, dan (maaf) bagian dalam celana, merupakan tempat-tempat favorit yang digunakan orang-orang nasionalis untuk menyimpan informasi militer tentara.

H. Wakker, seorang fotografer perang Belanda, pernah mengabadikan momen ketika serdadu Belanda berhasil menangkap seorang anggota masyarakat yang membawa pesan TNI di setang sepedanya. Peristiwa tersebut terjadi di Kuningan pada 16 oktober 1947, setelah Belanda melangsungkan agresi militer pertamanya.

Berbeda dengan Indonesia, pihak Belanda melakukan operasi intelijennya dengan sangat rapi dan terstruktur. Mereka tidak hanya memasukkan antek-anteknya ke dalam masyarakat saja, namun juga mencoba memecah belah badan perjuangan yang ada, baik itu dengan cara yang konvensional ataupun profesional.

Praktik-praktik profesional pihak Belanda itu di antaranya adalah upaya ‘devide et impera’ dan pemecahan kelompok terhadap para pejuang Indonesia. Salah satu bukti otentik praktik tersebut adalah apa yang ditemukan oleh seorang sejarawan Belanda bernama Fredrik Willems yang diungkapkannya tahun 2013.

Saat menelusuri data-data rahasia yang berkaitan dengan biografi Raymond Westerling, Willems menemukan fakta bahwa Divisi Bambu Runcing yang dikomandoi oleh Soetan Akbar di Ciwaru memiliki hubungan ‘terlarang’ yang bersifat sangat rahasia dengan pihak Jenderal Spoor dan Westerling yang saat itu menjabat sebagai pimpinan teras tentara Belanda. Selain DBR, Willems juga menyebut DI/TII Kartosuwiryo sebagai organisasi ‘pertahanan rahasia’ yang mendapat bantuan dari kedua perwira tentara Belanda tersebut.

Apa yang didapatkan Willems tersebut sungguh menarik karena DBR yang berhaluan kiri ekstrem bisa dekat dengan kelompok garis kanan, dan lebih anehnya lagi, keduanya memiliki hubungan ‘khusus’ dengan pihak Belanda yang pada saat itu merupakan satu-satunya musuh nyata pemerintah Indonesia. Persekutuan aneh yang terjadi dalam periode Revolusi Kemerdekaan tersebut tentunya didasari oleh suatu alasan tertentu, yang setidaknya dapat dijadikan sebagai dalih pembenaran oleh masing-masing pihak yang bersekutu.

Pada dasarnya, kegiatan intelijen bertujuan untuk kepentingan satu pihak tertentu. Dan dalam upaya mencapai tujuannya tersebut, terkadang para agen dan dinas intelijen harus mengorbankan nilai-nilai ideologis dan humanis yang berkembang dalam suatu kelompok masyarakat. Semoga kita dapat mengambil i’tibar dari fakta sejarah tersebut.

Comments

Add a comment

mood_bad
  • No comments yet.
  • chat
    Add a comment
    keyboard_arrow_up