Tak Ada Kebaikan yang Datang dari Kebencian, Kamu Tak Layak Sakit Hati

Suatu waktu kita pernah merasakan sakit hati karena seseorang. Bisa karena diputuskan sang sang kekasih, di khianati teman, atau sakit hati karena kalah bersaing dalam dunia kerja, itulah sekelumit contoh kasus yang sering kita temukan dan masih banyak contoh kasus lain dalam kehidupan kita. Karena sejatinya sakit hati merupakan suatu perasaan yang lumrah dialami oleh setiap insan yang memiliki hati.

Entah kemarin atau beberapa waktu yang lalu, bahkan hingga kini kita tidak dapat melupakannya. Secara sadar kita terus-menerus mengingat peristiwa yang tidak menyenangkan itu. Dan, setiap saat kita selalu menghadirkan kembali wajah orang-orang yang kita benci kedalam pikiran kita. Sejatinya, dengan melakukan hal itu kita tidak merugikan orang yang kita benci, tetapi kita tengah merusak diri kita sendiri.

Kita sedang memberi makan kepada rasa sakit itu sehingga ia terus tumbuh dan membesar seperti sel-sel kanker yang tengah menggerogoti tubuh kita. Kebencian adalah tanggapan alami kita terhadap rasa sakit hati yang mendalam.

Secara naluriah, kebencian adalah pembalasan kita terhadap siapapun yang melukai hati kita secara tidak benar. Namun, Apa manfaat dari kebencian itu? Jika terus dibiarkan, tak ada kebaikan apapun yang datang dari kebencian yang dimiliki seseorang, mengapa? Karena kebencian tidak ingin mengubah apapun menjadi lebih baik. Kebencian yang tidak segera kita lupakan akan membuat banyak hal menjadi lebih buruk. Kebencian akan menghembuskan napas maut yang busuk atas kehidupan kita, yang pada akhirnya tidak hanya melukai orang yang kita benci, tetapi nyala api kebencian itu akan lebih dulu menghanguskan dan membelah jiwa kita dari dalam.

Lalu, apakah kita tidak boleh membenci orang-orang yang telah melukai hati kita?

Apakah kita tidak boleh menyimpan dendam kepada orang-orang yang telah mengancurkan hidup kita?

Apakah kita tidak layak untuk sakit hati ?

Katakan dalam hati bahwa: “Anda, memang tidak layak untuk sakit hati”. Rasa sakit hati yang tidak segera dihapuskan ibarat noda membandel yang terus melekat pada kain kenangan hidup kita. Luka itu akan terasa sangat dalam dan membekas dalam kehidupan kita.

Rasa sakit itu terus mengalir dari masa lalu yang sudah mati ke masa sekarang yang masih kita hayati. Kita tentu menginginkan bahwa suatu saat kita dapat menjangkau momen yang menyakiti hati kita dan membuangnya dari kehidupan kita.
Namun, bagaimana kita dapat membunuh semua kebencian dan rasa sakit itu?

Hanah Arendt, seorang filusuf besar asal jerman menyatakan bahwa satu-satunya daya yang dapat menghentikan aliran kenangan yang menyakitkan hati adalah kekuatan untuk melupakan. Ya, menurutnya hanya sesederhana itu solusinya.

Jack Canfield dan Mark Viktor Hansen, penulis Chicken Soup for The soul juga memberikan jawaban untuk menepis kebencian. Menurut mereka, “Kita membutuhkan aliran cinta untuk menghapus kebencian, karena nyala api kebencian hanya dapat di padamkan oleh siraman kasih sayang yang menyejukan.” Dan mengenai kekuatan cinta, kita bisa merujuk pada pandangan Teilhard de Chardin yang menyatakan bahwa tatkala manusia telah berhasil memanfaatkan ruang angkasa, angin, gelombang dan gravitasi, manusia harus memanfaatkan energi-energi cinta.

Dan pada saat itulah, untuk kedua kalinya kita akan menemukan kembali nyala api yang nyaris padam karena kebencian.

Comments

Add a comment

mood_bad
  • No comments yet.
  • chat
    Add a comment
    keyboard_arrow_up