Tradisi Kawin Cai: Suatu Ritual Menghargai Tiap Bulir Air

Anda memiliki rencana perjalanan wisata ke daerah Kuningan, Jawa Barat? Jika iya, jangan lupa menambahkan Upacara Adat Kawin Cai di daftar agenda perjalanan Anda.

Daerah yang terkenal dengan ritual adat Kawin Cai ini berada di Kabupaten Kuningan lebih tepatnya di Desa Babakan Mulya, Kecamatan Jalaksana. Biasanya ritual ini dilaksanakan pada musim peralihan dari kemarau ke penghujan. Seperti yang dijelakan oleh kepala desa Babakan Mulya, Sahudin.

“Ritual upacara adat Kawin Cai ini diadakan pada malam Jumat Kliwon bulan Ruwah di Desa Babakan Mulya Kecamatan Jalaksana Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Maksud dan tujuan dari diadakannya Upacara Adat Kawin Cai ini, yaitu sebagai wujud permohonan kepada Tuhan supaya diberikan air yang melimpah dan menyuburkan untuk kehidupan manusia, dalam rangka melestarikan alam, dan sebagai daya tarik objek wisata Balong Dalem,” papar Sahudin, Kepala Desa Babakan Mulya setelah melangsungkan upacara adat Kawin Cai.

Selaintujuan diadakannya upacara adat Kawin Cai, terdapat juga latar yang menjadi cikal bakal diselenggarakannya acara tersebut. Dikisahkan pada jaman dahulu kala ada seorang petapa dari Cibulan bernama Begawan Resi Makandria atau Sang Kebo Wulan di telaga Balong Dalem Tirtayatra. Begawan Resi Makandria dijodohkan oleh Rama Sang Resi Guru Manikmaya dengan putrinya yang bernama Pwah Aksari Jabung.

Akan tetapi, karena Pwah Aksari Jabung adalah seorang bidadari yang sangat cantik, Begawan Resi Makandria tak sampai hati menerima Pwah Aksari Jabung sebagai istrinya. Akhirnya, Pwah Aksari Jabung menjelma menjadi kijang betina dan Resi Makandria menjelma menjadi kebo bule dan terjadilah perkawinan di antara keduanya.

Kemudian adik Pwah Aksari Jabung, yaitu Pwah Sanghyang Sri diperintah oleh Sang Resi Guru Manikmaya menitis menjadi bayi di dalam tubuh Pwah Aksari Jabung. Setelah itu, lahirlah bayi yang dinamakan Pwah Bungatak Mangaleale.

Setelah dewasa, Pwah Bungatak Mangaleale dipersunting oleh Sang Wreti Kandayun yang mendirikan kerajaan Galuh (berdasarkan cerita parahyangan). Hal tersebutlah yang menandai terjadinya ritual Kawin Cai dengan menggabungkan sumber mata air dari Cibulan dan Balong Dalem Tirtayatra. Dari cerita tersebut,terdapat petilasan bersejarah di Balong Dalem antara lain, batu kawin, linjuk, talaga/balong, dan masih banyak lagi.

Selain latar cerita yang menarik, proses pelaksanaan upacara adat ini pun tak kalah unik. Proses ritual ini diawali oleh sesepuh Balong Dalem dan rombongan tetua untuk menjemput air di Sumur 7 Cikembulan Desa Manis Kidul.

Setelah mengambil air dari Sumur 7 Cibulan, rombongan disambut di gerbang Balong Dalem.Selanjutnya, pelaksanaan Kawin Cai di mata air Balong Dalem Tirtayatra dilakukan di depan Batu Kawin oleh Ki Kuwu Balong beserta rombongan dengan cara mencampurairdari mata air Cikembulan dengan mata air Balong Dalem Tirtayatra yang disebut peristiwa Kawin Cai. Acara diakhiri dengan siraman Bapa Juru Cai yaitu pejabat Ekbang (Ekonomi dan Pembangunan) Desa Babakan Mulya juga desa-desa tetangga dan mengadakan syukuran bersama.

Menghargai alam salah satunya dengan cara menjaga kearifan lokal menjadi poin penting bagi kita dalam melestarikan alam melalui budaya.

Bagi Anda yang ingin berwisata sekaligus mengenal budaya lokal, tak ada salahnya untuk menghadiri Upacara Adat Kaiwn Cai ini. Selain menyaksikan kesakralan ritual adat, pengunjung juga dimanjakan oleh pertunjukan kesenian tradisional yang menarik dan bazzar kuliner tradisional yang lezat.

Disclaimer: Paparan Kepala Desa Sahudin diambil pada tahun 2013.

Comments

Add a comment

mood_bad
  • No comments yet.
  • chat
    Add a comment
    keyboard_arrow_up