Pasukan Kelana Sakti Kuningan, Andalan Kapten Umar

0
2323

Masa Perang Kemerdekaan Indonesia yang berjalan sejak 1945-1950 tidak melulu bercerita mengenai kemampuan diplomasi para diplomat negara ataupun tindakan-tindakan heroik para tentara semata, melainkan berkisah pula tentang sosok-sosok muda terpelajar yang turut serta mengorbankan segala yang mereka miliki untuk kepentingan Indonesia.

Peran para pelajar ini tidak hanya terbatas sebagai tenaga bantuan kesehatan, kurir pembawa pesan, ataupun pendamping masyarakat semata, namun juga sebagai pejuang yang turut mengangkat senjata untuk melawan Belanda yang hendak kembali merebut bumi Nusantara ke dalam genggamannya.

Pada umumnya, pemuda-pemuda berpendidikan ini menggabungkan dirinya dalam sebuah kelompok Tentara Pelajar (TP) yang dalam perkembangannya kemudian dikoordinir secara resmi oleh tentara. Beberapa batalyon TP yang ada di Jawa adalah Batalyon 100 yang dipimpin Prakoso berkedudukan di Solo, Batalyon 200 yang dikomandoi Marwoto terletak di Salatiga, Batalyon 300 berada di bawah pimpinan Martono terdapat di Yogyakarta, dan di Jawa Barat dibentuk Batalyon 400 yang dipimpin oleh Salamun AT. Untuk batalyon yang terakhir ini, salah satu medan perjuangannya semasa revolusi fisik adalah wilayah Kuningan.

Baca Juga: Menerka Identitas Arca di Wilayah Rimbun Citundun, Ciwaru Kuningan

Dalam Perjuangan Rakyat Kuningan Masa Revolusi Kemerdekaan, tim penulis DHC 45 Kuningan menuliskan bahwa Tentara Pelajar Kuningan dibentuk atas inisiatif salah seorang pelajar Sekolah Menengah (SM) yang sekaligus aktivis Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) bernama Adjid.

Awalnya, organisasi kalangan terdidik ini bersifat rahasia karena mereka memiliki tugas yang amat membahayakan nyawa seperti mengawasi gerak-gerik tentara Belanda yang ada di kota Kuningan, mengacaukan rencana dan kegiatan tentara Belanda, menghalangi atau menggagalkan gerak mereka yang akan melakukan penyerangan terhadap tempat-tempat para gerilyawan, dan lain-lain.

Anggota Tentara Pelajar Batalyon 400 yang aktif beroperasi di Kuningan merupakan sosok-sosok muda berdedikasi tinggi yang memiliki pengalaman dan persenjataan cukup karena mereka pernah mengikuti sejumlah pertempuran di wilayah Priangan Timur, yang di antaranya bersama Tentara Pelajar Tasikmalaya yang dikomandoi oleh Solichin G.P. Tentara Pelajar Batalyon 400 yang berada di Kuningan ini menamai diri mereka sebagai Pasukan Kelana Sakti (KS).

Posisi kelompok terpelajar ini dapat dikatakan cukup penting bagi satuan tentara yang berada di Kuningan. R. Sulaiman Kartasumitra yang menuliskan pengalamannya sebagai bagian Pasukan KS dalam sebuah tulisan berjudul ‘Sepintas Lalu Pengalaman dalam Perjuangan’, mengungkapkan bahwa selain sebagai pasukan tempur, satuan pelajar ini juga sangat diandalkan Kapten Umar sebagai pembina territorial dan polisi tentara karena cukup berwibawa dan mampu melakukan tugas-tugas lainnya.

Di samping itu, pergerakan mereka yang sangat dinamis di 2 daerah gerilya Kuningan benar-benar membantu operasi-operasi yang dilancarkan oleh para pejuang Kemerdekaan Indonesia. Terkait hal ini, Kuningan pernah dibagi menjadi 2 daerah gerilya, yaitu daerah gerilya yang terletak di sisi barat jalan raya Cirebon – Ciamis atau lereng Gunung Ciremai dengan pimpinan Kapten Umar, serta daerah gerilya yang wilayahnya terletak di sebelah timur dan selatan jalan raya Cirebon – Ciamis yang dikomandoi Kapten Rukman.

TP Batalyon 400 yang beroperasi di Kuningan selalu setia mendampingi Divisi Siliwangi untuk mempertahankan negara dari rongrongan Belanda. Ketika Pasukan Siliwangi harus hijrah ke daerah Jawa Tengah untuk menaati persetujuan Renville, sebagian TP turut serta menuju wilayah resmi Republik tersebut dan sebagian lainnya tetap di dalam wilayah pendudukan Belanda untuk menjaga jiwa perjuangan dan kemerdekaan rakyat. Begitu pun ketika tentara Jawa Barat ini melakukan long march kembali ke wilayahnya, pasukan TP menjadi pihak yang sangat membantu proses ini.

Memasuki tahun 1950, perang secara berangsur-angsur mulai berakhir dan keadaan negara pun semakin kondusif. Meski ada beberapa pihak yang subversif terhadap negara, hal itu tidak terlalu menghalangi arus perjalanan masyarakat menuju suasana yang lebih damai.

Setelah perang usai, Pasukan Kelana Sakti dari Tentara Pelajar Batalyon 400 ini kembali menjalani kehidupan awalnya sebagai pelajar dan berkarir di banyak bidang. Tidak sedikit dari mereka yang kemudian meraih kesuksesan baik itu di jalur militer, jalur akademisi, maupun jalur birokrasi.

Untuk mengenang jasa besar pasukan terpelajar dari Tentara Pelajar Batalyon 400 dalam membantu tentara saat masa Revolusi Kemerdekaan, maka pada bulan Juli 1981 Gubernur Jawa Barat saat itu, Mayjen Aang Kunaefi Kartawiria, meresmikan jalan raya ibukota Kecamatan Kadugede ke Sagarahiang dengan nama Kelana Sakti 400.

Semoga jiwa dan semangat juang para pahlawan bangsa tersebut bisa merasuk membasahi jiwa diri dan keturunan kita.

Amien.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here